Faith Steps

Aku Tahu kepada Siapa Aku Percaya

27 Mei 2026"...namun aku tidak malu, karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Ia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari itu." — 2 Timotius 1:12b (TB)
Simpan ke bookmark
Share

Bagikan ke

WhatsAppXFacebook
"Kepercayaan yang sejati bukan lahir dari situasi yang mudah, melainkan dari pengenalan yang dalam akan Allah yang memegang badai di tangan-Nya — namun juga menghitung rambut di kepala kita satu per satu."

Ayat Utama

"...namun aku tidak malu, karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Ia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari itu." — 2 Timotius 1:12b (TB)

Ada sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, namun mengguncang sampai ke dasar jiwa: "Di mana engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi?" (Ayub 38:4). Pertanyaan itu bukan ejekan. Itu adalah undangan — undangan bagi Ayub, dan bagi kita, untuk mengenal kembali siapa sesungguhnya Allah yang kita sembah.

Ayub telah meratap, mempertanyakan, bahkan menantang Allah untuk menjawab. Dan Allah menjawab — bukan dengan penjelasan, melainkan dengan pewahyuan diri-Nya. Dari dalam angin puyuh, Allah memperlihatkan bahwa Ia yang menetapkan batas lautan, yang menahan ombak dengan firman-Nya, adalah Allah yang sama yang duduk di atas takhta di tengah penderitaan Ayub. Tidak ada kekacauan yang berada di luar kendali-Nya.

Mazmur 8 menggema hal yang sama dengan nada yang lebih kontemplatif. Daud menatap langit malam — bulan, bintang-bintang, ciptaan tangan Allah — dan bertanya dengan takjub: "Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya?" (Mazmur 8:5). Di sinilah paradoks yang indah: Allah yang begitu agung, yang menata semesta dengan firman-Nya, justru memilih untuk peduli kepada manusia yang begitu kecil dan rapuh. Kebesaran Allah bukan membuat kita tidak berarti — sebaliknya, kepedulian-Nya kepada kita menjadikan kita sangat berharga.

Dari latar inilah, kata-kata Paulus dalam 2 Timotius menjadi begitu kuat. Ia sedang dipenjara. Nama baiknya sedang dipersoalkan. Banyak orang meninggalkannya. Namun di tengah semua itu, ia menulis dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan: "Aku tahu kepada siapa aku percaya." Perhatikan: bukan apa yang aku percaya, bukan doktrin apa yang aku pegang — melainkan kepada siapa. Ini adalah iman yang personal, relasional, dan mendalam.

Paulus tidak berkata, "Aku tahu situasiku akan membaik." Ia tidak berkata, "Aku tahu rencana-Nya secara rinci." Ia berkata: Aku mengenal Allah itu. Dan pengenalan itu cukup.

Inilah intisari iman Kristen yang sejati: bukan kepastian bahwa hidup akan selalu mulus, melainkan kepastian bahwa Allah yang berkuasa atas badai adalah Allah yang memegang hidupmu. Ia yang menaruh batas bagi ombak (Ayub 38:11) adalah Ia yang menaruh batas bagi setiap pergumulanmu. Ia yang "memahkotai manusia dengan kemuliaan dan hormat" (Mazmur 8:6) adalah Ia yang tidak akan membiarkan hidupmu berakhir tanpa makna.

Hari ini, mungkin kamu sedang berdiri di tengah "angin puyuh" hidupmu sendiri — kebingungan, kehilangan, ketidakpastian. Pertanyaan Allah kepada Ayub bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menggeser pandangan: dari masalah yang tampak besar, kepada Allah yang jauh lebih besar. Dan seperti Paulus, ketika kita sungguh-sungguh mengenal siapa Dia — kita pun bisa berkata tanpa malu, tanpa ragu: "Aku tahu kepada siapa aku percaya."

Pengenalan akan Allah adalah jangkar jiwa yang tidak akan hanyut oleh badai apapun.

Pokok Doa

Bersyukur atas Allah yang bukan hanya Mahakuasa, tetapi juga setia menjaga setiap yang dipercayakan kepada-Nya. Memohon keberanian untuk tidak malu mengakui iman di tengah tekanan dunia. Berdoa agar iman kita berakar bukan pada keadaan yang nyaman, melainkan pada pengenalan yang mendalam akan siapa Allah itu.