Faith Steps

Buahmu Ada pada-Ku

10 Juni 2026Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah." — Hosea 14:8
Simpan ke bookmark
Share

Bagikan ke

WhatsAppXFacebook
Berhala tidak pernah menjawab — hanya Allah yang menjawab. Berhala tidak pernah memperhatikan — hanya Allah yang memperhatikan. Dan seluruh buah kehidupan yang kita kejar dengan begitu keras di luar Dia, sebenarnya sudah tersedia di dalam Dia — cuma-cuma, penuh, dan tidak pernah habis musimnya.

Ayat Utama

Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala? Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau! Aku ini seperti pohon sanobar yang menghijau, dari pada-Ku engkau mendapat buah." — Hosea 14:8

Ini adalah salah satu ayat paling mengharukan di seluruh kitab Hosea.

Selama tiga belas pasal sebelumnya, kita membaca kisah yang menyakitkan: Israel yang berulang kali tidak setia, yang berlari kepada berhala-berhala, yang menukar kemuliaan Allah dengan hal-hal yang tidak bisa menjawab dan tidak bisa menyelamatkan. Allah berbicara melalui Hosea dengan nada penghakiman yang berat — karena memang demikianlah beratnya pengkhianatan itu.

Tetapi di pasal 14, suasananya berubah sepenuhnya.

Setelah Israel dipanggil kembali untuk bertobat (14:2-4), Allah merespons dengan gambaran pemulihan yang begitu indah dan lembut hingga hampir terasa seperti mimpi. Dan di ayat 8 ini, Allah berbicara langsung — pribadi, personal, dan penuh kerinduan — kepada Efraim, nama lain bagi Israel utara yang telah lama berpaling dari-Nya:

"Efraim, apakah lagi sangkut paut-Ku dengan berhala-berhala?"

Pertanyaan ini dalam bahasa Ibraninya adalah seruan yang bernada heran sekaligus membebaskan — seperti seseorang yang berkata: "Sudahlah. Berhala-berhala itu sudah tidak ada urusannya dengan kita lagi." Allah bukan sedang menghukum. Ia sedang menutup sebuah babak lama dan membuka babak yang baru. Ia sedang berkata kepada Efraim — dan kepada kita — bahwa masa bergantung kepada hal-hal yang mati itu sudah selesai.

Lalu datanglah deklarasi yang luar biasa: "Akulah yang menjawab dan memperhatikan engkau."

Dua kata kerja yang sederhana namun sangat kuat. Menjawab — artinya Allah bukan Allah yang bisu. Ia mendengar, Ia merespons, Ia hadir dalam percakapan nyata dengan umat-Nya. Berbeda dengan berhala yang "mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata" (Mazmur 115:5). Memperhatikan — artinya pandangan Allah tidak pernah beralih. Di tengah kehidupan yang sering membuat kita merasa tidak terlihat dan tidak dianggap, Allah berkata: Aku melihatmu. Aku tidak pernah berhenti memperhatikanmu.

Dan kemudian Allah menggunakan gambaran yang paling tidak terduga untuk menggambarkan diri-Nya: pohon sanobar yang menghijau.

Pohon sanobar — atau pohon sipres, pohon cemara — adalah pohon yang tidak mengenal musim kering. Di musim panas yang membakar maupun musim dingin yang membekukan, ia tetap hijau. Ia tidak meranggas. Ia tidak kering. Allah sedang berkata: Aku bukan seperti sumber yang mengering di musim sulit. Aku tidak berubah warna tergantung musimmu. Aku selalu hijau, selalu hidup, selalu tersedia bagimu.

"Dari pada-Ku engkau mendapat buah."

Inilah klimaks dari seluruh ayat ini — dan mungkin dari seluruh kitab Hosea. Israel sekian lama mencari buah dari ladang berhala. Mereka membangun mezbah demi mezbah, tugu demi tugu (Hosea 10:1), berharap bahwa penyembahan kepada ilah-ilah itu akan menghasilkan kemakmuran, keamanan, dan makna. Tetapi semuanya kosong.

Allah kini berkata dengan tegas dan lembut sekaligus: buah yang kamu cari di mana-mana itu ada pada-Ku. Bukan pada pencapaianmu. Bukan pada pengakuan orang lain. Bukan pada kendalimu atas situasi hidupmu. Semua buah sejati — damai, sukacita, makna, kekuatan, pemulihan — semuanya tumbuh dari akar yang tertancap pada-Nya.

Hari ini, adakah "berhala" yang masih kamu mintai buah darinya? Adakah sumber selain Allah yang kamu andalkan untuk mengisi kekosongan yang sebenarnya hanya bisa Ia penuhi?

Kembalilah kepada-Nya yang selalu menghijau. Buahmu ada pada-Nya — dan hanya pada-Nya.

Pokok Doa

Tuhan, betapa seringnya kami mencari buah dari tempat yang salah — dari pengakuan manusia, dari kemampuan diri sendiri, dari hal-hal yang kami jadikan andalan selain Engkau. Kembalikan kami kepada-Mu, sumber satu-satunya yang benar-benar menghijau dan tidak pernah kering. Ajar kami bahwa semua yang kami cari selama ini hanya ada pada-Mu.