Faith Steps
Bukan Karena Layak
Simpan ke bookmark
Ayat Utama
"...Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami..." — Keluaran 34:9
Konteks doa ini perlu kita pahami untuk merasakan betapa beratnya beban yang Musa tanggung saat mengucapkannya.
Israel baru saja melakukan dosa yang paling memalukan dalam sejarah awal mereka — menyembah patung anak lembu emas, tepat di kaki gunung tempat Allah sedang berbicara dengan Musa. Perjanjian itu baru saja dibuat, lalu langsung dikhianati. Allah sendiri sudah berkata kepada Musa bahwa Ia tidak akan ikut berjalan bersama bangsa yang tegar tengkuk ini — sebab jika Ia ikut, murka-Nya bisa menghanguskan mereka di tengah jalan (Keluaran 33:3).
Itu adalah situasi yang tidak ada harapannya secara manusiawi.
Dan Musa berdoa.
Bukan doa yang panjang dan berbunga-bunga. Bukan doa yang dimulai dengan mendaftar semua alasan mengapa ia dan bangsanya layak mendapatkan perhatian Allah. Ia memulai dengan sesuatu yang jauh lebih jujur dan jauh lebih kuat: "Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu."
Kata "jika" ini bukan keraguan — ini adalah kerendahan hati yang teologis. Musa tahu bahwa ia tidak berdiri di hadapan Allah berdasarkan prestasinya. Ia berdiri di sana berdasarkan sesuatu yang bukan berasal dari dirinya sendiri: kasih karunia. Ia tidak mengklaim kelayakan. Ia mengklaim kemurahan Allah.
Dan justru dari posisi yang paling rendah itulah ia mengajukan permohonan yang paling besar: "Berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami."
Perhatikan apa yang Musa minta. Ia tidak meminta keamanan. Ia tidak meminta kemakmuran. Ia tidak meminta kemenangan atas musuh-musuh mereka. Ia meminta kehadiran Allah itu sendiri. Bagi Musa, perjalanan sejauh apapun tanpa kehadiran Allah bukanlah perjalanan yang berharga — dan tujuan sedekat apapun bersama Allah adalah tujuan yang paling agung.
Di sinilah kita perlu berhenti dan bertanya kepada diri sendiri dengan jujur: Apa yang paling sering kita minta dalam doa?
Kita sangat terampil meminta berkat, kesembuhan, pekerjaan, solusi atas masalah, perlindungan dari bahaya. Semua itu baik dan sah untuk dimohonkan. Tetapi Musa mengajar kita bahwa ada satu permohonan yang mengatasi semuanya — kehadiran Allah yang berjalan bersama kita. Karena jika Allah hadir, berkat mengikut. Jika Allah hadir, hikmat tersedia. Jika Allah hadir, bahkan padang gurun pun menjadi tempat yang bisa ditaklukkan.
Ada juga sesuatu yang perlu kita perhatikan tentang kata "di tengah-tengah kami." Musa tidak berdoa hanya untuk dirinya sendiri. Ia seorang pendoa syafaat — ia membawa seluruh bangsanya, termasuk mereka yang baru saja berdosa besar, ke dalam doanya. Kehadiran Allah yang ia rindukan bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan untuk dibagikan kepada komunitas di sekelilingnya.
Hari ini, di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sering membuat kita berlari dari satu aktivitas ke aktivitas lain — ada undangan yang sama seperti yang Musa terima di kaki Gunung Sinai itu. Berhentilah. Berlututlah. Dan dengan segala kerendahan hati, berdoalah:
"Ya Tuhan, bukan karena aku layak — tetapi karena kasih karunia-Mu, berjalanlah di tengah-tengah hidupku."
Itulah doa yang paling berani. Dan ironisnya, ia hanya bisa diucapkan oleh orang yang paling rendah hati.
Kehadiran Allah bukan hadiah bagi yang paling hebat — melainkan anugerah bagi yang paling haus.
Pokok Doa
Memohon agar kita memiliki kerinduan yang sama seperti Musa — bukan sekadar meminta berkat dari Allah, tetapi merindukan kehadiran Allah itu sendiri berjalan di tengah-tengah hidup kita. Berdoa agar gereja dan komunitas iman kita bukan hanya ramai oleh program dan aktivitas, tetapi sungguh-sungguh dijiwai oleh kehadiran Allah yang nyata di tengah-tengah kita.