Faith Steps
Berbeda Bukan Berarti Kurang
Simpan ke bookmark
Ayat Utama
"Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama." — 1 Korintus 12:7 (TB)
Ayub 39 menghadirkan dua gambaran yang tampak kontras secara tajam.
Pertama, burung unta — makhluk yang aneh dan tampak "tidak masuk akal" secara biologis. Sayapnya ada, tetapi tidak cukup untuk terbang. Ia meninggalkan telurnya di tanah seolah tidak peduli. Ia tampak bodoh dibanding bangau atau rajawali. Namun Allah tidak membicarakannya dengan nada merendahkan — Ia hanya memperlihatkan bahwa burung unta adalah burung unta, bukan gagal menjadi elang.
Lalu datanglah kuda perang — gagah, bergetar penuh semangat, lubang hidungnya mengembang mencium bau pertempuran. Ia tidak takut. Ia berlari masuk ke medan perang dengan sorak sorai yang menggelegar.
Dua makhluk. Dua karakter yang sangat berbeda. Satu terlihat lemah, satu terlihat perkasa. Namun keduanya keluar dari tangan Pencipta yang sama.
Paulus sedang berbicara kepada jemaat Korintus yang terjangkit penyakit membanding-bandingkan karunia rohani. Ada yang merasa "lebih tinggi" karena berbahasa lidah. Ada yang merasa "kurang" karena hanya memiliki karunia pelayanan yang sederhana. Komunitas yang seharusnya menjadi tubuh yang saling menopang, perlahan berubah menjadi arena kompetisi rohani yang melelahkan.
Kepada jemaat itulah Paulus menuliskan ayat yang sangat tegas namun penuh kasih: "kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama."
Tiga hal penting tersimpan dalam satu kalimat ini.
Pertama, "tiap-tiap orang." Tidak ada orang percaya yang tidak memiliki karunia. Tidak ada anggota tubuh Kristus yang hadir tanpa kontribusi yang Roh Kudus siapkan. Jika kamu merasa tidak memiliki karunia apapun, itu bukan kenyataan rohani — itu adalah kebohongan yang perlu diperangi dengan kebenaran firman ini.
Kedua, "penyataan Roh." Setiap karunia — sekecil apapun kelihatannya di mata manusia — adalah penyataan, manifestasi nyata dari Roh Kudus. Artinya, ketika kamu melayani dengan karuniamu, Allah sendiri sedang menyatakan diri-Nya melaluimu. Ini bukan soal seberapa terlihat atau seberapa diapresiasi pelayananmu. Ini soal siapa yang bekerja di dalammu.
Ketiga, "untuk kepentingan bersama." Karunia bukan trofi untuk dipajang. Karunia adalah alat untuk membangun. Seperti burung unta yang kecepatannya berguna bagi kelangsungan hidupnya, dan kuda perang yang keberaniannya berguna bagi seluruh pasukan — setiap karunia memiliki fungsi yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh karunia orang lain.
Suara Tuhan dalam Mazmur 29 mengguncang yang besar dan yang kecil tanpa memilih-milih. Demikian pula Roh Kudus bekerja — tidak hanya dalam mimbar yang besar, tetapi juga dalam doa yang sunyi, dalam pelukan yang menghibur, dalam tangan yang setia melayani di belakang layar.
Berhentilah mengukur karuniamu dengan skala dunia. Mulailah memakainya dengan skala kekekalan.
Pokok Doa
Bersyukur bahwa setiap karunia yang kita terima — sebesar atau sekecil apapun kelihatannya — adalah penyataan Roh Kudus yang nyata dan berharga di mata Allah. Memohon agar kita dibebaskan dari jebakan membanding-bandingkan karunia diri sendiri dengan orang lain, dan sebaliknya belajar bersukacita atas keberagaman karunia dalam tubuh Kristus. Berdoa agar setiap karunia yang kita miliki sungguh-sungguh dipakai bukan untuk kebanggaan pribadi, melainkan untuk kepentingan bersama — bagi sesama dan bagi kemuliaan Allah.