Faith Steps
Satu Nama, Tiga Pribadi, Satu Misi yang Mengubah Dunia
Simpan ke bookmark
Ayat Utama
Matius 28:19-20
Hari ini, seluruh bacaan kitab seolah berbicara dalam satu nafas.
Di awal, ada kejadian: "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kejadian 1:1). Lalu dalam gelap yang tidak berbentuk dan sunyi yang tak terukur, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1:2). Lalu Firman itu berbicara — "Jadilah terang" — dan jadilah terang. Dalam satu perikop penciptaan yang sering kita baca tanpa cukup berhenti, ketiga Pribadi Tritunggal sudah hadir: Bapa yang berencana, Firman yang berkarya, Roh yang membarui. Penciptaan bukan hanya peristiwa kosmik. Penciptaan adalah pernyataan pertama dari kasih Tritunggal kepada dunia.
Ribuan tahun kemudian, Daud berdiri di bawah langit malam yang sama — langit yang dulu diucapkan menjadi ada — dan terpana: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu... apakah manusia sehingga Engkau mengingatnya?" (Mazmur 8:4-5). Daud tidak sedang meratap tentang ketidakberartian dirinya. Ia sedang terheran-heran oleh kasih yang memilih untuk peduli. Allah yang menciptakan segalanya, tetapi perhatian-Nya tidak berhenti di bintang-bintang — Ia terus memandang kepada manusia, yang begitu kecil, dengan begitu besar kasih-Nya.
Dan di ujung pelayanan Yesus di bumi, di atas sebuah bukit di Galilea, semuanya bertemu dalam satu momen agung.
Yesus — yang adalah Firman yang pada mulanya ada bersama Allah dan adalah Allah sendiri (Yohanes 1:1) — berdiri di hadapan murid-murid-Nya yang masih ada yang ragu-ragu (Matius 28:17), dan mengucapkan kata-kata yang akan mengubah arah sejarah: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." Ini bukan kesombongan. Ini adalah proklamasi bahwa kuasa yang menciptakan langit dan bumi kini tersedia untuk menyelesaikan misi penebusan.
Lalu datanglah amanat itu: "Pergilah... baptislah... dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."
Satu nama. Tiga Pribadi. "Onoma" dalam bahasa Yunani — tunggal, bukan jamak. Bukan "nama-nama", melainkan satu nama yang di dalamnya Bapa, Anak, dan Roh Kudus berdiam dalam kesatuan yang sempurna. Baptisan bukan sekadar ritual keagamaan. Baptisan adalah penandaan bahwa seseorang kini hidup di dalam relasi dengan Tritunggal — lahir dari kasih Bapa, ditebus oleh darah Anak, dibarui oleh kuasa Roh.
Paulus di akhir suratnya kepada jemaat Korintus menutup dengan berkat yang sama indahnya: "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian" (2 Korintus 13:13). Perhatikan bagaimana Paulus tidak sekadar mendaftar tiga nama — ia menghubungkan setiap Pribadi dengan karunia khas yang mereka berikan: Anak memberi kasih karunia, Bapa memberi kasih, Roh memberi persekutuan. Tritunggal bukan formula teologis yang dingin — Tritunggal adalah realitas hidup yang hangat, yang mengalir ke dalam kehidupan sehari-hari kita.
Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita dalam Matius 28 ini.
Sebelum memerintahkan murid-murid untuk pergi, Yesus berkata: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Amanat agung tidak dimulai dengan tuntutan kinerja — ia dimulai dengan janji kehadiran. Allah yang pada mulanya hadir di atas permukaan air yang gelap dan kosong, adalah Allah yang sama yang berjanji hadir dalam setiap langkah misioner yang kita ambil. Allah yang menciptakan dari ketiadaan, sanggup bekerja melalui kelemahan kita.
Kita tidak diutus sebagai orang-orang yang kompeten. Kita diutus sebagai orang-orang yang disertai.
Hari ini, di penghujung bulan Mei yang berbarengan dengan peringatan Minggu Trinitas, ada undangan untuk berhenti sejenak dan merenungkan betapa luar biasanya Allah yang kita sembah. Ia bukan Allah yang jauh dan dingin di balik keagungan-Nya. Bapa yang menciptakan langitmu juga menghitung rambutmu. Anak yang menopang alam semesta juga menanggung dosamu. Roh yang melayang-layang di atas semesta juga tinggal di dalam dadamu.
Dan dari relasi yang begitu kaya itulah — bukan dari kewajiban agama, bukan dari ketakutan akan hukuman — kita diutus untuk pergi, bersaksi, membaptis, dan mengajar. Bukan untuk mendapatkan kasih Allah, tetapi karena kita sudah begitu penuh dengan kasih-Nya.
Tritunggal bukan teori untuk diperdebatkan. Tritunggal adalah kasih untuk dihidupi — dan misi untuk diemban bersama.
Pokok Doa
Bersyukur atas misteri kasih Tritunggal — Bapa yang mencipta, Anak yang menebus, Roh Kudus yang menyertai — tiga Pribadi yang adalah satu Allah yang sama-sama mengasihi kita. Memohon agar hidup kita bukan sekadar mengetahui doktrin Tritunggal, tetapi sungguh-sungguh hidup di dalam dan dari kasih Tritunggal itu setiap hari. Berdoa agar amanat agung Kristus bukan terasa sebagai beban kewajiban, melainkan sebagai undangan untuk ikut ambil bagian dalam misi kasih Allah kepada dunia.